|
|
SEBUAH PELAJARAN DARI ANORGASME
Seks memang merupakan insting, namun bukan berarti tidak dapat dipelajari, dilatih, atau dikendalikan.
Entah bagaimana mulanya, hingga saya beranjak dewasa, saya masih berpikir bahwa dalam urusan seks, cuma prialah yang mengenal orgasme. Wanita cukup melayani saja. Secara kebetulan pula, di hampir tiap film biru yang saya saksikan, sangat jarang saya menyaksikan wanita orgasme. Yang ada, film selalu berakhir seiring dengan orgasme yang disertai ejakulasi pemeran prianya. Wanita hanya pasrah.
Bahkan sampai saya menikah dan telah dikaruniai 1 orang anak, pemikiran itu sepertinya belum berubah apalagi jika melihat sang istri yang memang tidak terlalu menuntut akan hal tersebut. Pernah dulu saya mempertanyakan, apakah ia merasa puas. Jawabnya adalah, ‘Asal Ayah puas, saya ikut puas kok.’ Makanya saya tidak pernah lagi menanyakan hal tersebut.
Hingga suatu saat, saya memperhatikan keanehan yang terjadi pada istri saya. Setiap kali kami selesai bercinta, ia langsung beranjak ke kamar mandi, dalam waktu yang lama pula. Setiap saya tanya, jawabnya selalu ingin membersihkan diri. Sampai suatu hari, saya penasaran dan mengintipnya. Apa yang saya saksikan membuat saya cukup shock. Ternyata selama ini istri saya mencari kepuasannya sendiri dengan cara masturbasi.
Inginnya hati ini adalah langsung melabraknya dan menanyakan untuk apa ia melakukan hal tersebut. Tetapi saya sadar bahwa itu bukanlah solusi tepat, tetapi justru akan membuatnya malu. Makanya saya mencoba untuk menyimpan dulu pengalaman ini untuk diri saya sendiri sambil mencari-cari informasi berkaitan dengan masalah ini.
Ternyata, tindakan awal saya ini tepat. Prinsip yang semestinya dijadikan patokan dalam komunikasi seks adalah tidak mengungkapkan materi secara negatif, misalnya menyalahkan pasangan atau menghakimi dengan pengertian yang jelek. Itu sebabnya, saya lebih memilih mencari tahu, hal apakah yang sesungguhnya menjadi penyebab sulitnya istri mendapatkan orgasme.
Hubungan yang buruk
Menurut Dr Natasha, sebuah hubungan seks, idealnya memang dipuncaki oleh sensasi kepuasan mahadahsyat atau yang biasa disebut dengan orgasme. Namun, tidak sedikit orang yang belum pernah mengalami sensasi ‘surga dunia’ ini atau mungkin sudah pernah tetapi kesulitan mengulanginya kembali.
Anorgasme atau kesulitan orgasme ini, menurut dokter yang berpraktek di On Clinic ini bisa terjadi baik karena faktor diri sendiri atau faktor pasangan. Faktor pasangan, antara lain, disebabkan buruknya kualitas komunikasi pasangan suami istri. Sebagai contoh, suami yang mengalami ejakulasi dini merupakan masalah yang menjadi penghambat untuk tercapainya kepuasan istri. Sedangkan faktor diri sendiri, antara lain, disebabkan trauma pada proses perkembangan psikoseksual, trauma psikologis, atau gangguan fisik. Misalnya, infeksi daerah organ intim yang mengakibatkan nyeri saat berhubungan sehingga berpotensi menghambat orgasme.
Anorgasme juga bisa disebabkan rusaknya daerah pelvik atau kondisi di mana aliran darah ke klitoris terganggu. Dr Ditza Katz dari Pusat Terapi Wanita di New York percaya bahwa penyebab utama dari gagal orgasme pada wanita karena faktor psikis. Sebagai contoh adalah ketidaksukaan terhadap pasangannya.
Faktor psikologis lainnya yang mencegah orgasme pada wanita adalah masalah hubungan dengan pasangan yang buruk juga dapat menghambat proses orgasme. Tanpa adanya pemanasan juga dapat mengakibatkan gagal orgasme. Faktor mental yang tidak dalam kondisi sehat, seperti depresi, rasa malu atau ketakutan, dan trauma karena kekerasan seksual.
Ketika sampai pada pencarian solusi, ada yang menganjurkan untuk memberikan kepada istri obat-obatan sejenis viagra yang banyak ditawarkan di pasaran. Sayangnya, penggunaan obat pemacu tersebut juga bisa berefek negatif, yaitu bisa menurunkan respon seksual pada wanita. makanya lebih dianjurkan untuk menjalani terapi seksual saja.
Namun sebelum sampai ke sana, saya diam-diam melakukan cek silang terhadap istri. Ternyata hasilnya nihil. Baik saya maupun pasangan, sama-sama tidak memenuhi kriteria untuk menyebabkan terganggunya proses pencapaian orgasme. Maka, penelitian saya pun berlanjut hingga memperoleh satu pemahaman baru.
Beda tahapan orgasme
Dari beberapa literatur yang saya baca, terdapat beberapa penjelasan bahwa ternyata, ada tiga tahapan dalam reaksi seksual seorang wanita. Pertama diawali dengan tahapan timbulnya rangsangan. Dari rangsangan tersebut kemudian diikuti dengan tahapan hasrat atau nafsu yang timbul. Tahapan yang ketiga adalah orgasme atau puncak kenikmatan. Setelah tahapan orgasme biasanya diikuti dengan fase relaksasi.
Selama periode rangsangan, terdapat beberapa reaksi pada tubuh wanita. Jantung yang berdebar lebih kencang dan biasanya nafasnya lebih menderu menjadi indikasi seorang wanita terangsang. Hormon seperti endorphin di pompa ke otak dan tubuh, serta darah yang dipompa ke organ kelamin. Reaksi tersebut memicu otot menegang. Hasil tegang tersebut terjadi di otot pelvik yang berlangsung antara lima sampai 15 menit dengan interval 0.8 detik. Kondisi menegang tersebutlah yang disebut dengan orgasme.
Pada tahun 1966, Ginekolog AS, William H. Masters dan isterinya Virginia Johnson, menemukan bahwa orgasme pada pria adalah tunggal (single orgasm) sementara pada wanita berganda (multiple orgasm). Mereka kemudian menemukan bahwa sumber penderitaan kaum perempuan adalah proses orgasme pada wanita yang jauh berbeda dari pada pria. Menurut hasil penelitiannya, Pria hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk meliwati empat fase orgasme, yaitu excitement (terangsang), plateau (mendatar pada puncak keterangsangan), orgasm (kenikmatan yang dahsyat, meledak) dan resolution (kembali ke asal).
Tanda-tanda fisik pada pria sangat nyata, yaitu dengan ereksi (penis membesar dan mengeras) dan ejakulasi (penis menyemburkan sperma pada saat orgasme). Tetapi orgasme itu, pada laki-laki, walau pun sangat dahsyat, hanya terjadi sekali.
Untuk terjadi orgasme yang berikut diperlukan minimal satu jam, bahkan seriangkali lebih dari sehari dan proses itu harus diulang dari tahap excitement lagi. Lain halnya dengan wanita. Keempat proses itu harus dilewati dengan perlahan-lahan, kadang-kadang sampai setengah jam atau lebih, karena wanita harus dibangkitkan emosi positifnya dulu sebelum ia bisa masuk ke tahap excitement. Selain itu, proses fisik pada wanita tidak terlalu nyata, karena tidak ada penis yang bereaksi. Tetapi kelenjar Bartholin mengeluarkan cairan pada tahap plateau untuk memperlicin jalan masuknya penis. Perubahan-perubahan bentuk, warna dan posisi juga terjadi pada klitoris, labia minora (bibir dalam) dan labia mayora (bibir luar vagina) dan vagina itu sendiri. Sedangkan pada saat orgasme, terjadi kontraksi-kontraksi pada vagina dan seluruh tubuh wanita. Namun yang paling hebat adalah bahwa wanita mengalami ledakan dahsyat orgasme berkali-kali (bisa 4-5 kali) berturut-turut, sebelum ia kembali masuk ke tahap resolution.
Perbedaan proses ini, menurut para peneliti psiko-seksual, tidak dipahami oleh para pria, termasuk saya. Laki-laki maunya cepat-cepat, sampai ke klimaks, ejakulasi dan langsung tidur setelah fase resolution, karena memang seperti itulah proses seksual laki-laki. Sudah barang tentu proses yang secepat kilat ini tidak memberi peluang pada wanita untuk menjalani tahap-tahap orgasme secara utuh. Itulah sebabnya wanita tidak akan mencapai orgasme kalau tidak dibantu oleh pasangannya.
Mesti dilatih
Setelah apa yang telah terjadi di kamar mandi tersebut, saya pun mencoba berpikir positif bahwa masalah yang ada di antara kami ternyata hanyalah soal komunikasi. Salah satunya adalah yang mengacu pada variasi dalam hubungan seksual yang dapat membuahkan sensasi dan kepuasan bersama yang mungkin belum pernah kami alami sebelumnya. Karena biar bagaimanapun, seks memang merupakan insting, namun bukan berarti tidak dapat dipelajari, dilatih, atau dikendalikan. Untuk itu, Pasangan harus mampu melatih dan mengendalikan gairah seksnya melalui seni bercinta dan penjagaan kondisi fisik dengan baik sehingga keharmonisan rumah tangga akan terjaga.
Khusus untuk para wanita, pola pikir juga harus diubah. “Hilangkan sikap serba nrimo atau menempatkan kepentingan suami di atas segalanya. Anda juga berhak mendapatkan kepuasan maksimal di ranjang. Singkirkan rasa malu dan sungkan. Keluarlah dari zona nyaman, Anda harus sadar bahwa variasi bercinta merupakan "bumbu" untuk mendapatkan sesi bercinta yang panas.
Makanya Natasha menganjurkan, untuk mendapatkan sensasi orgasme, tak ada salahnya kedua pasangan mencoba variasi gaya bercinta. Misalnya, posisi wanita berbaring telentang dan pria di atas (missionary), posisi pria berbaring telentang dan wanita di atas (woman on top), atau wanita dalam posisi lutut siku, pria dari belakang. Coba juga eksplorasi gaya lainnya seperti posisi berdiri, menyamping, bahkan duduk. Ingat juga bahwa bahwa seks itu bukan sekadar penetrasi penis ke liang vagina. Lebih dari itu, kedua belah pihak harus merasakan kepuasan yang sama karena pada dasarnya seks itu juga merupakan rekreasi sehingga harus fun. Tidak ada salahnya juga memakai alat bantu seksual, seperti vibrator atau lidah si dia.
Anorgasme pada wanita salah satunya juga bisa disebabkan ketidakmampuan pria mengenali titik-titik erotis pasangan. "Wanita itu punya dua pusat orgasme, yaitu klitoris dan G-spot. Letaknya kira-kira sepertiga bagian atas vagina. Pria saat meraba bagian ini juga harus elegan, istilahnya seperti menulis di atas kaca berembun. Ironisnya, penelitian menunjukkan, 75 persen pria bahkan tidak tahu letak G-spot ini. Sedangkan, Wanita butuh stimulasi klitoris karena stimulasi vagina saja sering tak berhasil,” ungkap Natasha.
Sama-sama nyaman
Saya menjadi teringat dengan sebuah testimony yang dituliskan rekan wanita saya mengenai pengalaman orgasmenya. Katanya, “Orgasme itu seperti relaksasi yang menyenangkan bahkan dapat membantu relaks. Yang terpenting, jika ingin mencapai orgasme adalah stimulasi dari kedua pihak. Ini tidak bisa dipaksakan karena hasilnya justru tidak bisa maksimal bahkan sangat mungkin menimbulkan nyeri. Stimulasi dari kedua pihak ini bermacam-macam. Selain foreplay tentunya, gairah terhadap pasangan pun dapat muncul hanya dengan bahasa tubuhnya, seperti senyumnya atau sedikit belaian dan ciuman darinya yang menyenangkan sebelum masuk ke menu utama. Dalam hal ini, biasanya saya tidak ingin menjadi pihak yang menerima saja, saya pun harus aktif agar bisa lebih membuatnya terangsang. Saya akan lebih bersemangat jika pasangan juga merasa nyaman, apalagi ditambah tatapan matanya yang menghujam ke saya. Selanjutnya, tinggal ikuti saja alurnya. Maka, klimaks pun bisa dengan mudah saya peroleh.”
Waktunya bercinta
Oke, rasanya sudah cukup bekal bagi saya, tinggal menunggu kapan waktu yang tepat untuk dipraktikkan. Ketika ia meminta izin (seperti biasanya) untuk ke kamar mandi, saya biarkan dulu dia. Beberapa menit kemudian, saya mengetuk kamar mandi untuk (pura-pura) buang air kecil. Ketika ia membuka pintu, entah mengapa ada sesuatu yang luar biasa yang tidak pernah saya lihat dari istri saya. Sesuatu yang mendorong saya untuk menerabas pintu kamar mandi, dan melakukan adegan percintaan yang sama sekali belum pernah kami rasakan sebelumnya, hingga akhirnya saya menyaksikan hal yang luar biasa dari istri. Yup, dia akhirnya bisa orgasme, bukan dengan dirinya sendiri, melainkan bersama saya. Dan jujur saja, pengalaman itu sungguh membuat mental saya sebagai laki-laki terangkat secara signifikan.
Setelah selesai bercinta, saya tidak mengizinkannya langsung mandi. Saya membawanya kembali ke tempat tidur, kemudian memeluk sambil membisikkan ucapan terima kasih di telinganya sambil mengecul lehernya yang wangi. Ternyata, tindakan sederhana itu justru seperti berdampak luar biasa. Saya seperti telah memencet sebuah tombol ajaib yang membuatnya berubah seperti pemeran film-film biru yang pernah saya saksikan. Begitu cantik, seksi dan….liar.
Selamat menempuh hidup baru, buat kami berdua.
Sumber : HealthyLife Magazine

