|
|
BIKIN VIDEO SEKS? BOLEH SAJA, ASAL…
Mengingat dunia tak lagi aman untuk menyimpan rahasia, banyak hal yang mesti kita pertimbangkan, terlebih yang berkaitan dengan teritori privasi
Semenjak bercerai dengan Andre, butuh waktu lama bagi Lisa untuk bisa mengupayakan kehidupannya normal kembali. Hampir dua tahun Lisa menjalani kesendirian hingga akhirnya, datang Rangga, teman sekantor yang begitu tampan, baik, ramah, dan banyak lagi sifat baik yang sesungguhnya sejak awal ia harapkan bisa ia peroleh dari mantan suaminya dulu.
sayangnya, ditengah gelora asmara yang kian membara, disaat semua restu mengiringi langkah mereka, tiba-tiba muncul petir di siang bolong. Seorang sahabat Lisa mengabarkan bahwa saat ini telah beredar rekaman percintaan antara Lisa dan Andre ketika mereka masih bersatu.
Awalnya, Lisa tidak percaya akan hal tersebut. Dia bahkan lupa pernah membuat rekaman tersebut. Yang ia ingat mereka memang pernah secara iseng memanfaatkan fitur video dari handphone yang baru mereka miliki. Namun itupun tidak mereka simpan lama, karena langsung ia minta hapus. Tapi kenapa justru sekarang rekaman itu muncul kembali? Di konsumsi umum pula.
Dengan tubuh gemetar, lisa coba menghubungi mantan suaminya yang kini berada di luar kota, bersama pasangan barunya. Ternyata, ia pun tidak yakin kalau video itu bisa tersebar karena sudah lama tidak ada padanya.
Depresi ringan menyerang Lisa nyaris tanpa perlawanan. Usahanya untuk bangkit dan mengumpulkan mengumpulkan kembali puing-puing kehidupaannya seakan sia-sia. Semua tiba-tiba hancur kembali. Bayangan indah yang sempat berkembang seakan kembali layu. Lisa haanya bisa pasrah jika calon suaminya nanti melihat sendiri video tersebut dan kemungkinan bakal lari karena tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Itu baru efek yang mungkin paling ringan. Akan ada konsekwensi yang lebih berat lagi, yaitu moral dan sosial.
Baik Lisa maupun Andre, jelas tidak berpikir banyak tentang kemungkinan yang bakal terjadi seperti hari ini. Karena memang tak ada yang melarang buat siapapun untuk memfilmkan adegan seksi bersama pasangan. Padahal, terdapat banyak konsekwensi yang mesti dijadikan pertimbangan ketika kita ingin merekam adegan seks bersama pasangan. Sayangnya, buat mereka yang sedang dimabuk kepayang, pintu konsekwensi itu kerap dijebol juga, dan baru sadar setelah semuanya terlanjur terjadi.
Berikut ini adalah beberapa hal yang mesti dipertimbangkan:
- Risiko bubar
Nasihat Paris Hilton berikut ini patut disimak. Paris meminta kepada para perempuan untuk tidak sekali pun merekam adegan seks mereka.
"Saya berharap kepada para perempuan jangan sekali-kali merekam adegan seks kamu dengan kekasihmu. Walau hanya untuk dokumentasi pribadi, itu bakal jadi bumerang untuk kalian," ujarnya.
Omongan Paris itu bukan bualan belaka. Paris memang punya kenangan buruk dengan video porno. Adegan seks dirinya dengan Rick Solomon, mantan pacarnya, pernah beredar luas pada 2003 silam. Saat itu Paris dan Rick tengah kasmaran, sehingga sebagai bentuk tanda cinta kasih mereka, keduanya pun merekam adegan intim itu. Video tersebut diambil di Paris, Prancis di sebuah hotel mewah.
"Pada saat itu saya sangat dipermalukan dan syok. Itu bukan karena kesalahan saya tapi gara-gara ada orang yang iseng.” jelas Paris.
Intinya adalah, jangan terlalu mudah percaya pada pasangan. Meski Anda sudah lama berhubungna dan berjanji setia sehidup semati, tetap saja kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bagaimana kalau Anda dan si dia berpisah? Yang menakutkan, setelah bubar, ternyata rekaman video yang tadinya tersimpan rapi dan enak-enak hanya dinikmati sendirian, karena marah dan dendam, lantas dia bagi-bagi dengan teman-teman, atau disebar di internet? Belum lagi risiko-risiko lain di luar faktor kesengajaan. Laptop hilang, ponsel ketinggalan di taksi, video kamera dicuri, dan lainnya. Sekali muncul di publik, susah membendung peredarannya.
- Jadi korban pemerasan
Ini juga penting jadi pertimbangan terlebih jika anda seorang figur publik. Antisipasi itu perlu.
- Menimbulkan gejolak
Tidak seperti di negara liberal macam di Amerika, yang banyak pesohor justru pamornya makin naik karena video porno -seperti Paris Hilton atau Kim Kardashian- di Indonesia kalau video syur pribadi beredar bukan cuma malu dan aib yang didapat. Hujatan, makian, ejekan, serangan-serangan dari berbagai golongan jadi menu tambahan. Belum lagi kemungkinan dilaporkan ke polisi dan dijerat dengan pasal-pasal hukum.
Dorongan fantasi
Masih segar di ingatan kita, kehebohan yang ditimbulkan video mesum yang dilakukan oleh Ariel Peterpan. Terlepas dari benar atau tidaknya video ini, yang jelas berita ini sudah tersebar kemasyarakat luas dan sudah terlanjur menjadi konsumsi publik, sehingga hal yang tidak mungkin untuk menarik dari peredaran, yang bisa mereka lalukan hanyalah membantah kebenaran video tersebut namun tentunya harus dengan alasan-alasan yan tepat.
Kasus ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya juga sempat terjadi beberapa kasus serupa, seperti yang menimpa mantan anggota DPR dan sejumlah artis lainnya.
Menurut psikolog A Kassandra Putranto, kasus video mesum yang beredar di internet merupakan sebuah fenomena di tengah arus globalisasi yang semakin deras. Dari sudut pandang psikologi, perilaku mengabadikan berhubungan seksual melalui video ponsel merupakan bagian dari dorongan atau fantasi seksual seseorang. "Semua ini berawal dari fantasi seksual. Semua orang pun memilikinya, tetapi tentu bervariasi dari sisi kuantitas maupun kualitas. Ada yang merasa suka, tetapi ada pula yang tidak suka sehingga tak perlu mengabadikannya,"
Menurut Kassandra, bagi sebagian orang, aktivitas seksual yang dibumbui acara disorot kamera dapat menjadi kepuasan dan kesenangan tersendiri. Ini tak jauh berbeda dengan dorongan atau fantasi seksual lainnya. "Ini adalah salah satu bagian dari kesenangan," ungkapnya.
Dari sisi psikologi klinis, perilaku mengabadikan sendiri aktivitas seks bersama pasangan masih termasuk dalam batas yang normal. Menurut Kassandra, perilaku ini belum dapat dikategorikan sebagai penyimpangan atau kelainan seksual. Tetapi, dari sudut psikologi sosial tentu penilaiannya bisa berbeda karena ini berbenturan dengan moral, budaya, dan norma yang berlaku di Indonesia.
"Secara klinis ini dapat dikatakan masih wajar, tetapi secara psikologi sosial tentu melanggar," imbuhnya.
Simpan di tempat terbaik
Terlepas dari segala kontroversi di atas, membuat video seks di kalangan suami istri memang sah-sah saja, dan bukan sesuatu yang menyimpang. Karena ini sebagai bentuk variasi dan rangsangan. Jika Anda benar-benar yakin dan merasa aman untuk mendokumentasikan percintaan Anda, diperlukan perencana dan persiapan matang agar tidak malah menjadi bumerang yang memalukan. Berikut trik yang perlu Anda pertimbangkan dalam mewujudkan video koleksi pribadi Anda:
- Pastikan buat yang seartistik mungkin, tentunya dengan bantuan lighting yang lembut, supaya hasilnya tak vulgar tapi artsy. Kalau perlu bagian wajah disamarkan. Manfaatkan teknologi untuk merekayasa tampilan agar lebih indah dari aslinya.
- Jika memang tidak diperlukan, hindari mengambil gambar seluruh tubuh dalam setiap adegan yang dilakukan. Anda bahkan tidak harus menunjukkan sesuatu yang “kotor”, seperti gambar porno. Cobalah sudut pengambilan gambar yang sedap dilihat, misal dimulai dari kepala tempat tidur, kepala, bahu, dan seterusnya.
- Hindari membuat desahan hebat ataupun berakting seperti bintang porno selama “bermain” dengan pasangan di ranjang. Tak perlu stres memikirkan dialog dengan kata-kata erotis. Biarkan suara yang dikeluarkan ataupun serangan yang dilakukan berjalan natural, apa adanya.
- Jika selama permainan terdapat suara-suara yang cukup mengganggu, Anda bisa memotong bagian itu saat proses editing. Lalu, ganti dengan musik favorit Anda dan pasangan.
- Agar rekaman seks aman dari tangan-tangan jahil, pertimbangkan untuk menghapus semua bukti pembuatan video mesum Anda, misal setelah dua bulan penggarapan. Tindakan pengamanan ini diambil untuk menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan.
Mengingat dunia tak lagi aman untuk menyimpan rahasia, banyak hal yang baiknya disimpan di memori alami saja. Boleh saja Anda mengoleksi adegan-adegan seksi terbaik sepanjang sejarah percintaan Anda, tapi simpanlah di tempat yang paling aman, di dalam kepala. Ketika Anda butuh menyalakan mood bercinta dengan pasangan, Anda bisa dengan gampang memutarnya kembali dengan mengingat-ingat. Malah dengan tambahan imajinasi, adegan yang sebenarnya tak terlalu heboh, bisa Anda modifikasi menjadi lebih dramatis.
Sumber : HealthyLife Magazine

